Wednesday, October 10, 2012

1 Anak Indigo? Benarkah?

Ilustrasi Anak Indigo, Sumber : http://payload.cargocollective.com/1/0/7164/68328/lightkid.jpg



Kawan, setelah sebelumnya kita membahas tentang adanya indera ke enam yang dimiliki oleh sebagian manusia sebagai suatu kelebihan. Kali ini kita akan membahas tentang istilah Indigo. Indigo adalah kemampuan ekplorasi indera ke enam yang dimiliki seseorang, biasanya masih tahap awal atau anak-anak. Kemampuan tersebut dapat meliputi kemampuan untuk meramal masa depan, membaca pikiran atau bahkan menyembuhkan orang sakit.

Kalau sebelumnya saya berpendapat bahwa indera ke enam itu tidak ada, saya harus konsisten donk, ya kan ya donk? :)

Artinya dengan anggapan, kalau pun memang kemampuan itu ada, itu hanyalah penajaman dari salah satu inderanya saja dibanding dengan manusia lain. Atau.. bila itu tidak ada, artinya harus dicarikan alternatif definisi lain, harus ada yang menjadi alasan seseorang dapat "merasa" memiliki kemampuan itu. 

Maaf kawan, saya harus masuk ke ranah ini, mohon kawan baca dulu sebelum membayangkan komentar apa yang akan kawan berikan ke saya. Ini memang seperti mewakili kaum skeptis dalam mendefinisi situasi unreasionable atas fenomena-fenomena tidak biasa di alam, namun sebelumnya kita paparkan dulu ide-idenya, baru kita dapat mendiskusikannya lebih dalam. setuju brother??

Berikut beberapa teori yang sering dikemukakan oleh para psikolog dan para filsuf modern tentang fenomena ini : (cekidot)

Imajinasi

Anak-anak sering berpura-pura atau bermain untuk latihan imajinasi mereka, dan mengembangkan fantasi mereka bermain dengan cara permainan peran, menjadi tokoh atau individu lain, atau berinteraksi dengan tokoh atau individu lain (tokoh imajinasi), dan mereka percaya bahwa situasi yang mereka alami dan tindakan yang mereka lakukan seolah-olah merupakan realitas aktual.

"Imajinasi ... lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan terbatas.. Imajinasi dapat mengelilingi dunia", Albert Einstein

Anak-anak, dapat terlibat dalam penciptaan kombinasi yang baik antara imajinatif dengan kenyataan pada tahun-tahun awal usia mereka. Diketahui bahwa perkembangan otak yang paling berkembang pada tahap awal usia anak-anak adalah proses imajinasinya, jauh sebelum perkembangan proses logika atau matematis. Seiring waktu, perkembangan imajinasinya menurun seiring bertambahnya usia dan seiring perkembangan logikanya. Boleh dikatakan bahwa yang terjadi dalam otak manusia di tahun awal usianya, semua adalah imajinatif inaktif (tidak terkontrol atau bebas atau radikal). Dengan kata lain, pada saat itu anak-anak tidak dapat membedakan dimensi imajinatif dan aktual. (gawat..!! bahasanya..hehe).

Kekuatan imajinasi masing-masing anak diketahui ternyata juga berbeda tergantung laju perkembangan otaknya. Dalam bentuk visi, seorang anak dapat merasakan dimensi imajinatifnya begitu nyata. Sebagai ilustrasi, seorang anak dapat saja merasa ia bisa terbang dengan keadaan yang dapat dirasakannya dengan sungguh-sungguh. Detilnya, ia seperti dapat merasakan sentuhan angin dikulitnya, atau melihat pemandangan, dan gaya gravitasi yang terasa pada seluruh tubuhnya. Kekuatan imajinasi itu dapat merangsang panca inderanya untuk mengikuti alur imajinasinya, menopang dan men-support-nya, sehingga lengkaplah pengalaman terbangnya. Pada situasi tertentu, pengalaman ini akan tersimpan di memori otaknya dengan sangat baik, yang mungkin saja akan terbawa hingga ia tumbuh besar, namun tetap menganggap pengalaman itu seperti pengalaman nyata. Nah loh..!! sampai disini mungkin kawan ingin kembali mengingat satu topik saja, pengalaman masa kecil kawan, yang membuat kawan bingung karena tidak tahu apakah itu kenyataan atau tidak. Cobalah, pasti kawan akan menemukan satu pengalaman itu.

Back to topic, saya mengkuatirkan, apa yang terjadi pada anak-anak indigo adalah proses seperti ini. Mungkin saja, ini tetap saja dapat diperdebatkan.

Tokoh Imajinasi

Kawan yang memiliki seorang anak pasti sering menemukan anaknya suka berbicara sendiri atau asik dengan imajinasinya. Normalkah anak yang memiliki teman imajinasi?

Kondisi tersebut, oleh psikologi anak, dianggap merupakan hal yang wajar atau normal untuk anak usia 3-6 tahun. Hampir sebagian besar anak-anak pada usia tersebut memang memiliki teman imajinasi.



Siapakah teman (tokoh) imajinasi ini? Dia adalah suatu individu yang tercipta karena proses imajinasi anak. Tujuan kemunculannya berbeda-beda, namun sebagian besar tokoh ini muncul sebagai teman bermain si anak, walaupun pada kasus-kasus tertentu, kemunculan tokoh ini dapat sebagai gambaran yang menakutkan si anak. Itu semua tergantung proses perkembangan otaknya, dan masukan-masukan yang ia dapatkan dari lingkungannya. Dengan kata lain, masing-masing tokoh akan muncul sesuai dengan pribadi anak dan pengalaman dalam kehidupannya masing-masing.
Tokoh itu dapat berupa manusia, dewasa atau anak-anak, perempuan atau laki-laki, bahkan dapat berupa hewan yang pandai berbicara, atau bahkan makhluk yang sama sekali tidak ada di muka bumi ini. Bebasss.. namanya juga tokoh imajinasi.

Normalnya, tokoh ini akan hilang dengan sendirinya. Si anak akan semakin melupakannya bila dalam perkembangannya ia mulai disibukkan dengan aktifitas-aktifitas. Namun, dalam kasus tertentu,  karena kebutuhan akan tokoh ini begitu besar (yang diakibatkan kurangnya perhatian kepada si anak dari orang tuanya, atau anak memang suka menyendiri, atau alasan lainnya), sang tokoh imajinasi ini dapat selalu muncul di setiap perkembangan. Kawan tentu pernah nonton salah satu film Hollywood yang menceritakan tentang tokoh imajinasi seorang perempuan yang tiba-tiba muncul pada masa dewasa sang perempuan tersebut. Tokoh itu muncul kembali karena misinya menyelamatkan si perempuan dari sebuah perkawinan yang salah. Walaupun akhirnya cerita film tersebut menjadi ngawur, karena sang tokoh akhirnya menjadi manusia (wah ngawur banget), namun poin yang disampaikan dari film tersebut adalah tokoh imajinasi itu muncul akibat proses kehidupannya sendiri.

Nah kawan, sebagian besar psikolog anak banyak yang berpendapat, anak yang berbicara dengan teman imajinasinya ini seringkali dikaitkan dengan anak yang memiliki indera keenam atau anak indigo. Tapi sebenarnya ada pola tersendiri atau kriteria diagnosis untuk kasus-kasus seperti ini, sehingga sebaiknya jangan mendiagnosis sendiri.

Menurut Kak Seto, setiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan, yaitu:

  1. Tahap pasca percaya dasariah pada usia 0-1,5 tahun.
  2. Tahap rasa otonomi pada usia 1,5-3 tahun. Pada tahap ini anak mulai merasa punya kewenangan atas diri sendiri, serta mulai aktif bergerak dan tidak bisa diam.
  3. Tahap rasa inisiatif pada usia 3-6 tahun. Pada tahap ini muncul rasa ingin tahu anak yang besar terhadap segala hal, karenanya orangtua sebaiknya menjawab dengan tenang, jujur dan jawablah sesuai dengan pertanyaan anak.
  4. Tahap industri pada usia 6-12 tahun. Pada tahap ini anak mulai bisa menghasilkan hasta karya seperti puisi atau barang-barang tertentu.  

Sampai disini, mari kawan-kawan coba mengingat kembali ke masa kecil kita dulu, setiap orang pasti pernah memiliki satu atau dua tokoh imajiner, dan dalam perasaan kita saat itu, tokoh tersebut dapat menjadi sangat nyata.
 
Dari uraian dua hal diatas, saya dapat menjawab, kira-kira, untuk kemampuan melihat kasat mata pada anak indigo mungkin saja dapat dijelaskan dengan kemampuan imajinasi anak. Hanya saja disinilah letak kuncinya, seorang anak yang telah dianggap indigo dengan persepsi, akan dikaitkan dengan memiliki kemampuan lain seperti meramal dan menyembuhkan penyakit. Banyak anak yang dianggap indigo akhirnya menjadi terkaryakan (oleh orang tuanya atau lingkungannya) menjadi tempat pelayanan (yang orang bilang) supranatural.
Jika kemampuan itu memang ada, memang saya tidak mampu menjelaskan teorinya kawan. Hal ini memang tidak dapat dinalar dengan logika awam. Namun setiap ramalan pun harus dibuktikan dengan waktu, apabila itu belum terjadi, tentunya kita juga tidak dapat mengatakan sebuah ramalan itu benar.
Lalu berkenaan dengan kemampuan mengobati orang sakit, kita mengenal istilah Sugesti. Dalam dunia medis pun diakui bahwa proses penyembuhan dapat dilakukan dengan baik bila pasien memiliki sugesti yang baik akan kesembuhannya. Kekuatan sugeti bahkan dapat memicu tubuh melawan penyakitnya sendiri dengan atau tanpa bantuan obat-obatan. Artinya, proses penyembuhan bukanlah proses satu arah dari yang menyembuhkan kepada yang disembuhkan, melainkan harus ada sugesti atau keyakinan yang kuat dari yang disembuhkan. That's the poin..!! You decide it..

Well guys, bagaimana menurut pendapatmu? Just take it easy ya.. (JTIE)

Baca Juga : 
Apakah Indera Ke enam (Six Sense) Itu Ada?
Jangan menggunakan foto close up di akun atau media sosial online





1 comments:

  1. Aku mau nanya,kan kalau dalam islam banyak yang berpendapat bahwa indigo merupakan penglihatan jin yang ada didalam tubuh si indigo,tapi apakah org indigo tersebut dapat disembuhkan seperti layaknya gangguan jin yg lain dgn ruqyah misalnua?

    ReplyDelete

Berkomentar dengan bijak adalah cermin kedewasaan

 

JTIE (Just Take It Easy) Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates